:quality(70))
Apakah kamu seseorang yang pasif ketika diskusi kelompok pakai bahasa Inggris? Jika iya, kamu tidak sendirian. Hal ini sangat wajar dihadapi oleh mahasiswa maupun profesional yang sedang mencari cara agar komunikasi mereka bisa berkontribusi nyata di dunia kerja maupun akademis.
Kunci utama untuk aktif berkontribusi menggunakan bahasa Inggris akademik adalah dengan menguasai transisi pembuka yang percaya diri, frasa penyampai opini yang kuat, taktik meminta klarifikasi, serta seni menyanggah pendapat secara sopan. Melalui artikel ini, kamu akan mempelajari formula komunikasi strategis tersebut agar kamu tidak sekadar ikut berbicara, melainkan mampu mengarahkan dinamika kelompok dengan argumen yang jauh lebih berbobot, terstruktur, dan profesional.
Sebuah diskusi yang terstruktur dimulai bagaimana membuka opening dalam sesi tersebut. Jika kamu ditunjuk menjadi leader atau ingin mengambil inisiatif agar diskusi segera dimulai, jangan ragu untuk mencairkan suasana dengan mengatakan, "Let’s get started," atau "Shall we begin?"
Setelah suasana kondusif, langsung arahkan perhatian anggota kelompok pada topik utama hari itu. Gunakan kalimat transisi seperti, "We’re here to discuss..." atau "Let’s begin our discussion by looking at the main prompt." Cara ini akan membuat kelompokmu akan sadar untuk fokus dengan topik diskusi ini akan dimulai.
Ketika kamu mendapat giliran untuk berbicara, jangan menyampaikan ide yang terdengar terlalu kasual. Dalam ranah akademik, opini harus disampaikan secara objektif dan terstruktur. Pilihan frasa yang kamu gunakan sangat menentukan bobot dari argumen tersebut.
Untuk menyatakan pendapat pribadi secara profesional, kamu bisa memilih variasi frasa berikut:
“In my opinion/view...” atau “As far as I’m concerned...”
“It seems to me that...” atau “The way I look at it is this...”
“First of all, I’d like to point out that...”
Jika kamu merasa sangat yakin dengan data atau argumen pendukung yang kamu miliki, kamu bisa mempertegas pernyataanmu menggunakan frasa yang lebih kuat, seperti: “I’m absolutely convinced that...” atau “There can be no doubt that...”
Setelah selesai memaparkan seluruh poinmu, jangan lupa memberikan sinyal bahwa giliran bicaramu sudah selesai agar anggota lain bisa merespons. Kamu bisa menutupnya dengan kalimat sederhana: “That’s all from me,” atau “I think I’ve made my point.”
Ketika kamu melakukan diskusi dalam grup, harus dimengerti bahwa ini adalah komunikasi dua arah. Artinya, selain menyampaikan ide sendiri, kamu juga perlu aktif melibatkan anggota lain. Jika kamu mau memancing pendapat dari rekan satu tim, kamu bisa menggunakan kalimat interaktif seperti, "What’s your take on this?" atau "How do you feel about this issue?"
Namun, adakalanya argumen rekan kelompok terdengar kurang jelas atau terlalu rumit. Jangan hanya diam dan mengangguk ragu. Mintalah klarifikasi atau penjelasan tambahan dengan cara yang sopan:
“Could you explain to me what you mean by that?”
“I didn’t quite get that. Are you saying that...?”
“I’m sorry, I don’t think I understand your point. Could you give an example?”
Dalam sebuah diskusi menggunakan teori cara akademik, perbedaan perspektif adalah hal yang sangat wajar. Kunci utamanya adalah bagaimana kamu merespons perbedaan tersebut tanpa terdengar menyerang secara personal.
Jika kamu setuju dengan pendapat rekanmu, tunjukkan apresiasi yang jelas menggunakan frasa:
“I entirely agree with you on that.”
“That’s a very important point. I think so, too.”
“You’ve got a good point there.”
Jika kamu setuju namun memiliki catatan atau perspektif lain (qualified agreement), gunakan transisi yang halus:
“I see what you mean, but I think that’s not the whole story.”
“You may be right there. Yes, but there’s also another aspect to consider.”
Lalu, bagaimana jika kamu tidak setuju? Hindari kata-kata kasar yang mematikan ide orang lain secara mutlak, seperti "That’s nonsense!" atau "What a silly idea." Pilihlah penolakan yang sopan (polite disagreement) seperti:
“I disagree with you, I’m afraid. I don’t think that’s the best approach.”
“I understand your concern, but the problem with that is...”
“Well, that’s one way of looking at it, but I have my doubts about that.”
Ada kalanya kamu harus menginterupsi jalannya diskusi, terutama saat pembahasan sudah mulai keluar dari jalur. Lakukan interupsi secara elegan dengan frasa:
“Sorry for interrupting, but can I add something here?”
“Sorry to interrupt, but I think we should get back to our topic on...”
Jika di dalam kelompok terjadi kendala teknis, kamu juga bisa menyampaikan keluhan secara profesional tanpa terkesan emosional: “I’m sorry I have to say this, but I’m a bit disappointed with our current progress. Something ought to be done about it.” Anggota kelompok yang lain pun bisa meresponsnya dengan bijak, misalnya: “I really must apologize for this. I’ll find out what has happened and see what I can do.”
Ini adalah tahap terakhir yang sering dilupakan, kemampuan untuk menarik benang merah. Jika sudah sesi terkhir untuk diskusi, arahkan kelompok untuk melakukan ringkasan materi sebelum sesi benar-benar berakhir.
Gunakan kalimat transisi ini untuk mulai merangkum:
“To sum up, let’s go over the main points we have decided.”
“In short, we have come to an agreement on two major solutions.”
Setelah semua poin, tutup dengan diskusi dengan tegas dan sopan: “I think it’s time to wrap up our discussion. Thank you very much for your attention and participation.”
EFellas, hal terakhir yang perlu kamu ingat saat berdiskusi di kantor maupun sekolah adalah pentingnya menggunakan bahasa Inggris secara akademik. Dengan pendekatan ini, argumen yang kamu sampaikan akan terdengar jauh lebih terstruktur dan profesional. Di samping itu, kunci sukses dari sebuah diskusi bukanlah seberapa banyak kamu berbicara, melainkan bagaimana kamu bisa selalu menjadi pendengar yang baik. Jangan lupa untuk selalu mempersiapkan materi dengan riset yang matang, serta miliki niat tulus untuk memberikan kontribusi positif sepanjang jalannya diskusi.
Selamat membaca dan cek artikel edukatif lainnya hanya di EF EFEKTA Blog!