Menu
street wall art
News and Lifestyle

Street Art: Motivasi Bermain yang Menjadi Karya Seni

Ben Small Stars
Author
Ben
2020.12.23

Pernahkah kamu mendengar istilah street art atau mungkin wall painting? Street art adalah sebuah karya seni yang mungkin sering kamu lihat pada dinding-dinding besar di jalan seperti sebuah wall painting. Tidak sekedar coretan, biasanya karya-karya ini memiliki sejuta pesan di dalamnya. Ada banyak ragam street art yang bisa kamu temukan di sekelilingmu, namun yang paling sering kamu temukan mungkin adalah graffiti dan mural.

HORE! Kamu dapat kelas demo GRATIS!

Isi data dirimu pada kolom di bawah ini, dan dapatkan kesempatan untuk mendapat voucher kelas demo GRATIS!* Buruan, penawaran terbatas!

Incorrect phone number
Daftar Sekarang!

Dengan menekan tombol Daftar Sekarang, Anda menyetujui Kebijakan Privasi EF serta bersedia menerima penawaran dari EF.

*Syarat dan Ketentuan Berlaku

Pada kesempatan kali ini, EF Blog akan mengajakmu mendengar cerita dari salah satu komunitas penggiat graffiti dan street art di Indonesia yang terus berkegiatan dan berkarya selama lebih dari sepuluh tahun.

Simak ceritanya di bawah ini!

Q: Selamat siang! Terima kasih atas waktunya untuk wawancara bersama EF Blog. Bisa perkenalkan diri Anda dan apa profesi Anda saat ini?

Perkenalkan, Bima di sini. Saya mewakili Gardu House, sebuah wadah kolektif para penggiat dan penikmat graffiti yang berdomisili di Bintaro Sektor 1, Tangerang Selatan. Saat ini, secara pekerjaan saya memposisikan diri saya sebagai Art Director, walau dalam komunitas graffiti dan street art saya lebih suka disebut sebagai seorang penikmat.

Q: Bisa diceritakan, kira-kira apa yang menjadi motivasi utama Anda untuk menjadi seorang mural artist serta awal mula Anda belajar dan menggeluti cabang seni ini?

Menjadi penggiat graffiti melahirkan banyak pengalaman-pengalaman seru dalam prosesnya. Dari mulai berkomunikasi dengan warga sekitar, membaca keadaan lingkungan, menggunakan ruang terbengkalai serta menanggapi stigma masyarakat. Semua pengalaman tersebut dialami oleh kami para penggiat graffiti di jalan. Hal ini juga membentuk sebuah mental dan pola pikir baru dalam menanggapi masalah sehari-hari.

Untuk Gardu House sendiri, saat ini wadah tersebut berbentuk toko kebutuhan gambar dan merchandise produk dari komunitas graffiti. Pada awalnya, yang memotivasi saya untuk menjadi bagian dari komunitas ini adalah ketertarikan akan semangat dan aktivitas yang hadir dari graffiti.

Selain itu, dalam graffiti sendiri mungkin hal-hal seperti pandangan masyarakat, perebutan ruang visual di ranah publik, pembentukan karakter secara personal dan komunitas, hingga kesempatan mengembangkan jejaring juga pertemanan—membuka sudut pandang baru akan pola pikir yang saya miliki, yang bahkan berpengaruh pada pola bermain.

“Sebagai sebuah komunitas, kami didasari oleh motivasi untuk bermain.

Yup, mungkin terdengar sepele, namun dari bermain-lah kita jadi memahami apa saja yang dibutuhkan untuk bisa terus bermain dan berkarya.”

Dari berkarya melalui graffiti, kita juga dapat melihat apa saja dampak hingga reaksi dari audience di sekitar kita. Ketika bermain, banyak gagasan dan harapan yang muncul dari interaksi dengan berbagai teman yang hadir. Konsep komunitas sebagai sebuah ‘wadah’ kami lestarikan untuk terus mengobarkan api dalam perkumpulan ini. Melalui berbagai kegiatan, kami percaya bahwa makna dari graffiti yang kami ciptakan akan terus menyentuh semua orang yang melihatnya.

Q: Pengalaman apa yang tidak terlupakan saat Anda menciptakan sebuah street art?

Selama 10 tahun komunitas ini berdiri, kami menyadari bahwa alasan kami terus bisa bergerak adalah karena ekosistem yang telah terbentuk selama ini terus dijaga bersama-sama oleh teman-teman kami yang berasal dari daerah di seluruh Indonesia. Kami banyak mengadakan proyek bersama. Kegiatan yang kami lakukan yaitu menyelenggarakan pameran baik solo hingga collective, showcase visual yang kami sebut Ironwall dan music yang kita sebut Street Beat, perayaan graffiti dalam bentuk jejaring yang disebut IndoGraffDay hingga festival multi konten yang kami namakan Street Dealin.

Q: Bisa diceritakan mengenai karya-karya yang paling berkesan bagi Anda dan makna yang tersirat di dalamnya?

Berbicara mengenai karya, ada beberapa cerita yang bisa saya bagikan. Misalnya melalui acara-acara yang kami lakukan di beberapa tahun kami berdiri, kami menunjukkan karya-karya kami dalam acara-acara ini.

Street Dealin 11 (Festival) 2017

Dalam acara ini, kami ingin merepresentasikan pergerakan graffiti Indonesia. Dikemas dengan kekeluargaan, gotong royong dan semangat perayaan atas nama pertemanan. Banyak diskusi, kerja sama, kolaborasi lintas skena yang terjadi dalam festival tersebut. Kami menyebutnya sebagai “Lebaran-nya anak gambar”.

Rayuan Pulau Berwarna (Social Experiment) 2017

Proyek ini kami anggap sebagai ‘liburan’ dengan tujuan untuk berbagi kesenangan dengan warga Karimun Jawa. Dalam acara ini, kami juga melakukan eksplorasi lingkungan dalam sudut pandang pengkaryaan. Selaku turis lokal, komunitas kami berusaha berinteraksi melalui media graffiti, berbagi pengalaman gambar, lokakarya untuk anak-anak, dan berkoneksi dengan penduduk setempat.

Gardu House at A-Create (Showcase Collaboration) 2014

Banyak brand yang menunjukkan minat pada graffiti. Karena itu, kami memaparkan apa yang biasa dilakukan secara kolektif dalam berkomunitas dan berkarya dijalan. Menarik perhatian tanpa harus berkoar-koar.

Q: Pertanyaan terakhir, apa pesan dan harapan yang Anda ingin sampaikan pada generasi muda di Indonesia?

Akhir kata, pada dasarnya semua orang bisa mempunyai ide bagus. Namun, kalau kalian nggak berani beraksi dari ide tersebut, ya sama saja jadi percuma! Satu hal dalam berkarya, kita harus berani membuat kesalahan. Kami sendiri sebagai komunitas banyak belajar dari pengalaman dan pertemanan, pribadi yang baik menjadi hal paling penting dalam perkembangan kami sebagai graffiti artists. Teruslah berkarya tanpa menjadi sombong!

●▂● .. ●︿● .. ●ω● .. ●﹏● .. ●▽● .. ●△●

Setelah membaca cerita di atas, apa motivasi yang kamu dapatkan?

Buat kamu yang suka bermain dan berkarya, bulan Januari kemarin, Ben telah menantang jutaan pembaca EF Blog untuk menunjukkan karya mereka. Berikut karya-karya terbaik yang telah berhasil memenangkan merchandise ekslusif dari EF Blog:

Let’s Doodle a Doodle Challenge

Juara 1: @kezia_pb/Kezia

Hello everyone, my name is Kezia. I'm 10 years old. The meaning of this drawing is about saving the earth, in this world there are so many people who don't care about environment, so, I draw this.

Examples to preserve environment:

1. Don't catch fish with explosives. Catch the fish with a net.
2. Don't throw trash in the river. Throw the trash in the trash can.
3. Don't use a car or motorcycle, use a bicycle to prevent air polution.
4. Don't cut down young trees! Cut down old trees.

Juara 2: Michelle Mazaya

Hi, my name is Michelle Mazaya. And I participate in "Let's Doodle a Doodle Challenge" by EF. And I chose the education theme for this picture. It tells about "Learn English".

I want to encourage people to learn English from this doodle. I want people fluent in English. Because when we can read, listen, write, and speak English, we get a lot of benefits, such as easier to learn more languages and easier to communicate with other people.

Juara 3: @kemas_fam/Rizieq

hello my name is Rizieq I am 6 years old now. My doodleart tells about discipline during a pandemic. Stay healthy guys

Juara Harapan 4-10

Selamat kepada para pemenang! Jangan lupa untuk mengirimkan data lengkapmu (nama, nomor telepon dan alamat pemenang) ke [email protected].

Nantikan challenge selanjutnya dari Ben dan EF Blog, ya.

Terluslah belajar dan berkarya bersama EF!

Ben Small Stars
Author
Ben