Dongeng Anak: The Happy Prince

2016.08.30
Dongeng Anak: The Happy Prince

Membacakan dongeng sebelum tidur dapat menjadi kebiasaan baik bagi orangtua dan anak. Selain membangun quality time bersama mereka, ada banyak hal yang dapat mereka pelajari melalui sebuah dongeng.

Temukan Cara Cepat dan Menarik Belajar Bahasa Inggris untuk Anak, klik link biru ini ▶Pelajaran Bahasa InggrisFun Learning dan Games Seru hanya di EF English First, Belajar Bahasa Inggris makin seru!

Baca juga ▶Folklore◀ Cerita Pendek Lokal Rakyat Indonesia Malin Kundang, Danau Toba, Bawang Merah Bawang Putih, Asal Usul Surabaya dan cerita lainnya

Mulai dari kemampuan mendengar, bahasa hingga nilai moral yang terkandung di dalamnya. Kali ini EF kembali memberikan referensi dongeng istimewa berjudul The Happy Prince. Untuk dongeng lainnya, KLIK DI SINI!

dongeng anak

The Happy Prince

 

High above the city, stood the statue of the Happy Prince. He was covered with thin leaves of fine gold. He had two bright sapphires eyes, and a large red ruby glowed on his sword.

Diatas kota, berdiri sebuah patung “Pangeran Bahagia”. Ia ditutupi dengan daun emas. Ia memiliki dua pasang mata dari batu safir, dan batu rubi merah yang bersinar di pedangnya.

 

One night there flew over the city a little Swallow.

Pada suatu malam, terbanglah seekor burung walet kecil di atas kota.

 

He saw the eyes of the Happy Prince were filled with tears that running down his golden cheeks.

Ia melihat mata pangeran dipenuhi dengan air mata yang mengalir menuju pipi emasnya.

 

“Why are you weeping?” asked the Swallow.

“Mengapa kamu menangis?” tanya burung walet

 

“When I was alive and had a human heart,” answered the statue, “I did not know what tears were, for I lived in the palace, where sorrow is not allowed to enter. And now that I am dead and stood so high that I can see all the misery of my city.’

“Saat aku masih hidup dan memiliki hati manusia,” jawab sang patung, “Aku tidak tahu apa itu air mata karena aku tinggal di istana, dimana kesusahan tidak boleh masuk. Dan sekarang saat aku mati dan berdiri di atas, aku dapat melihat semua kesulitan yang ada di kotaku.”

 

“Far away,” continued the statue, ‘far away in a little street there is a poor house. I can see a woman seated at a table. In a bed in the corner of the room her little boy is lying ill. Swallow, Swallow, little Swallow, will you bring her the ruby out of my sword-hilt? My feet are fastened to here and I cannot move.’

Di tempat yang jauh,” lanjut si patung, di jalan kecil, ada sebuah rumah. Aku dapat melihat wanita duduk di sebuah meja. Di tempat tidur, anak laki-lakinya terbaring sakit. Burung walet, burung walet kecil, maukah kamu membawakan batu rubi pada pangkal pedangku ini? Kakiku terpaku di sini dan tidak dapat bergerak.

 

So the Swallow picked out the great ruby from the Prince’s sword, and flew away with it in his mouth over the roofs of the town. He flew gently round the bed, fanning the boy’s forehead with his wings.

Burung waletpun memilih batu rubi dari pedang sang pangeran, dan terbang dengan membawanya di mulut melalui atap-atap kota. Ia terbang dengan lembut di sekililing tempat tidur, mengepakkan sayapnya di dahi anak laki-laki.

 

“It is strange,” the Swallow remarked, “I feel quite warm now, although it is so cold.”

“Ini aneh” ujar si burung walet, “Aku merasa sangat hangat, meskipun di sini dingin.”

 

‘That is because you have done a good deed,” said the Prince.

“Itu karena kamu telah melakukan hal yang baik,” ujar sang pangeran

 

“Swallow, Swallow, little Swallow,” said the prince, ‘far away across the city I see a young man in a garret. He is trying to finish a play for the Director of the Theatre, but he is too cold to write any more. There is no fire in the grate, and hunger has made him faint.’

“Burung walet, burung walet kecil,” ujar sang pangeran, jauh di seberang kota, aku melihat seorang laki-laki di loteng rumah. Ia berusaha menyelesaikan sebuah drama untuk pengarah teater, tapi ia tidak dapat menulis lagi karena terlalu dingin. Tidak ada api di loteng, dan ia pingsan karena kelaparan.

 

“All that I have left are my sapphires eyes. Take one of them to him. He will sell it to the jeweler, and buy food and firewood, and finish his play.”

“Yang aku punya hanyalah sepasang batu safir di mataku. Ambil salah satunya dan berikan padanya. Ia akan menjualnya kepada tukang emas, dan membeli makanan serta kayu untuk membuat api, dan menyelesaikan drama yang dibuatnya.

 

“Dear Prince,” said the Swallow, “I cannot do that,” and he began to weep.

“Pangeran tersayang,” ujar burung walet, “Aku tidak dapat melakukan itu,” dan ia mulai menangis

 

‘Swallow, Swallow, little Swallow,’ said the Prince, ‘do as I command you.’  So the Swallow plucked out the Prince’s eye, and flew away to the student’s garret.

“Burung walet, burung walet kecil,” kata sang pangeran, “lakukan apa yang aku perintahkan padamu”. Burung waletpun mencabut mata pangeran dan terbang ke loteng rumah.

 

“Swallow, Swallow, little Swallow. In the square below,” said the Happy Prince, “there stands a little match-girl. She has let her matches fall in the gutter, and they are all spoiled. She has no shoes or stockings, and her little head is bare. Give my other eye to her.”

“Burung walet, burung walet kecil. Di tengah kota,” kata sang pangeran, “berdiri gadis korek api kecil. Ia meninggalkan semua korek apinya di selokan, dan menjadi rusak. Ia tidak punya sepatu atau stoking, dan kepalanya tidak mengenakan apapun. Berikan mataku yang satu lagi kepadanya.”

 

“But I cannot you would be quite blind then.”

“Tapi tidak bisa – kamu akan menjadi buta nanti.”

 

“Swallow, Swallow, little Swallow,” said the Prince, “do as I command you.” So he plucked out the Prince’s other eye, and darted down with it.

“Burung walet, burung walet kecil,” ujar sang pangeran, “laukan seperti perintahku.” Ia pun mencabut mata pangeran yang satunya, dan terbang seperti anak panah kebawah dengannya.

 

“Dear little Swallow,” said the Prince, “Look, the rich are making merry in their beautiful houses, while the beggars are sitting at the gates. The white faces of starving children are looking out listlessly at the black streets. Under a bridge two little boys are lying in one another’s arms to try and keep themselves warm…”

“Burung walet tersayang,” kata sang pangeran, “Lihatlah orang kaya membuat pesta di rumah indah mereka, sementara pengemis duduk di pagar mereka. Wajah pucat anak kecil yang kelaparan melihat tanpa gairah ke arah jalanan yang gelap. Di bawah jembatan, dua anak laki-laki saling berpelukan agar tetap merasa hangat…”

 

“I am covered with fine gold,” said the Prince, “you must take it off, leaf by leaf, and give it to my poor; the living always think that gold can make them happy.”

“Alu ditutupi dengan emas murni,” kata sang pangeran, “kamu harus mengambilnya, daun per daun, dan berikan kepada yang miskin, mereka yang hidup berpikir kalau emas dapat membuat mereka bahagia.”

 

Leaf after leaf of the fine gold the Swallow picked off, now the Happy Prince looked quite dull and grey. The poor little Swallow was very cold, he kissed the Happy Prince on the lips, and fell down dead at his feet.

Burung waletpun menggentaskan daun emas satu per satu, sekarang pangeran bahagia terlihat membosankan dan abu-abu. Burung walet kecil merasa sangat dingin, ia mencium pangeran bahagia di bibirnya dan dan jatuh mati di bawah kakinya.

 

At that moment a curious crack sounded inside the statue, as if something had broken. The fact is that the leaden heart had snapped right in two. It certainly was a bad frost.

Pada saat itu bunyi retakan terdengar dari dalam patung, seakan sesuatu telah rusak. Pada faktanya hati yang kelam telah terbagi menjadi dua. Benar-benar  beku.

the-end

 

Questions:

1. Why did the Happy Prince weep sadly?

2. Why, at the end of the story, did the Happy Prince look quite dull and grey?

3. Do you think the little Swallow take the Happy Prince as a true friend?

Galat database Wordpress: [The table 'wp_options' is full]
INSERT INTO `wp_options` (`option_name`, `option_value`, `autoload`) VALUES ('_wp_session_9b49a638ff173d3f2bcac5d236144321', 'a:1:{s:10:\"age_filter\";s:4:\"none\";}', 'no') ON DUPLICATE KEY UPDATE `option_name` = VALUES(`option_name`), `option_value` = VALUES(`option_value`), `autoload` = VALUES(`autoload`)

Galat database Wordpress: [The table 'wp_options' is full]
INSERT INTO `wp_options` (`option_name`, `option_value`, `autoload`) VALUES ('_wp_session_expires_9b49a638ff173d3f2bcac5d236144321', '1571151976', 'no') ON DUPLICATE KEY UPDATE `option_name` = VALUES(`option_name`), `option_value` = VALUES(`option_value`), `autoload` = VALUES(`autoload`)