Dongeng Anak: The Emperor’s New Clothes (Termasuk Audiobook)

2016.07.21
Dongeng Anak: The Emperor’s New Clothes (Termasuk Audiobook)

Mendengarkan dongeng sebelum tidur tentunya salah satu aktivitas favorit si kecil. Anda dapat mengajarkan mereka mengenai bahasa Inggris dan juga pesan moral yang ada. Di artikel sebelumnya kami memiliki cerita mengenai seekor katak, The Leap Frog. Kali ini EF hadir dengan cerita seru mengenai seorang raja. Selamat Mendengarkan!

0001

The Emperor’s New Clothes, Part I

 

Many years ago there lived an emperor who loved beautiful new clothes so much that he spent all his money on being finely dressed. His only interest was in going to the theatre where he could show off his new clothes. He had a different costume for every hour of the day.

Bertahun-tahun yang lalu hiduplah seorang raja yang sangat mencintai baju barunya. Ia menghabiskan seluruh uangnya untuk mempercantik bajunya. Satu-satunya hal yang ia sukai adalah pergi ke teater untuk mempertunjukkan baju barunya. Ia memiliki kostum yang berbeda setiap jam di setiap harinya.

 

One day two swindlers came to the emperor’s city. They said that they were weavers, claiming that they knew how to make the finest cloth imaginable. Not only were the colors and the patterns extraordinarily beautiful, but this material had the amazing property that it was to be invisible to anyone who was incompetent or stupid.

Suatu hari dua orang penipu datang ke kota raja. Mereka berkata mereka adalah penenun, mengaku bahwa mereka tahu bagaimana membuat kain terbaik yang dapat dibayangkan. Tidak hanya warna dan pola yang sangat indah, tapi juga bahan ini memiliki sesuatu yang luar biasa, yaitu tidak dapat dilihat oleh orang yang tidak kompeten atau bodoh.

 

“It would be wonderful to have clothes made from that cloth,” thought the emperor. “Then I would know which of my men are unfit for their positions, and I’d also be able to tell clever people from stupid ones.” So he immediately gave the two swindlers a great sum of money to weave their cloth for him.

“Akan sangat menyenangkan jika dapat memiliki baju yang terbuat dari kain tersebut” pikir sang raja. “Dengan begitu aku akan tahu pegawai mana yang tidak cocok dengan posisi mereka, dan aku akan dapat membedakan orang pintar dari yang bodoh.” Ia-pun langsung memberikan kedua penipu sejumlah besar uang untuk menenun kain tersebut buatnya.

 

They set up their looms and pretended to go to work, although there was nothing at all on the looms. They asked for the finest silk and the purest gold, all of which they hid away, continuing to work on the empty looms, often late into the night.

Mereka mulai mempersiapkan alat tenun dan berpura-pura bekerja, meskipun tidak ada apapun di alat tenunnya. Mereka meminta kain sutera terbaik dan emas murni, semua itu mereka sembunyikan, dan meneruskan kerja di alat tenun yang kosong, seringkali hingga larut malam.

 

“I would really like to know how they are coming with the cloth!” thought the emperor, but he was a bit uneasy when he recalled that anyone who was unfit for his position or stupid would not be able to see the material. Of course, he himself had nothing to fear, but still he decided to send someone else to see how the work was progressing.

“Aku ingin tahu bagaimana kain yang mereka buat!” pikir sang raja, tapi ia sedikit gelisah saat mengingat mereka yang tidak cocok dengan posisi mereka atau bodoh tidak dapat melihatnya. Tentu saja, ia sendiri tidak ada yang perlu ditakutkan, tapi ia tetap memutuskan mengirim seseorang untuk melihat bagaimana kemajuan kerja mereka.

 

“I’ll send my honest old minister to the weavers,” thought the emperor. He’s the best one to see how the material is coming. He is very sensible, and no one is more worthy of his position than he.

“Aku akan mengirimkan perdana menteri tuaku yang jujur kepada para penenun,” pikir sang raja. Ia adalah orang terbaik untuk melihatnya. Ia memiliki pemikiran yang baik dan tidak ada seorangpun yang pantas berada di posisinya selain ia.

 

So the good old minister went into the hall where the two swindlers sat working at their empty looms. “Goodness!” thought the old minister, opening his eyes wide. “I cannot see a thing!” But he did not say so.

Perdana menteri tua yang baik memasuki ruangan dimana kedua penenun sedang duduk bekerja di alat tenun yang kosong. “Ya ampun!” pikir perdana menteri tua itu, ia membuka matanya lebar-lebar. “Aku tidak dapat melihat apapun!” Tapi ia tidak mengatakannya.

 

The two swindlers invited him to step closer, asking him if it wasn’t a beautiful design and if the colors weren’t magnificent. They pointed to the empty loom, and the poor old minister opened his eyes wider and wider. He still could see nothing, for nothing was there. “Gracious” he thought. “Is it possible that I am stupid? I have never thought so. Am I unfit for my position? No one must know this. No, it will never do for me to say that I was unable to see the material.”

Kedua penenun mengundangnya untuk melangkah lebih dekat, bertanya kepadanya apakah desainnya indah dan warnanya menakjubkan. Mereka menunjuk pada alat tenun yang kosong, dan perdana menteri tua yang malang membuka matanya semakin lebar. Ia tetap tidak dapat melihat apapun, karena tidak ada apapun disana. “Ampun” pikirnya. “Mungkinkah aku bodoh? Aku tidak pernah berpikir itu. Apakah aku tidak sesuai dengan posisiku? Tidak ada yang boleh tahu hal ini. Tidak, aku tidak mungkin bilang kalau aku tidak dapat melihat bahan ini.”

 

“You aren’t saying anything!” said one of the weavers.

“Anda tidak mengatakan apapun!” ujar salah satu penenun

 

“Oh, it is magnificent! The very best!” said the old minister, peering through his glasses.”This pattern and these colors! Yes, I’ll tell the emperor that I am very satisfied with it!”

“Oh, ini sangat bagus! Yang terbaik!” kata perdana menteri tua, mengintip melalui kaca matanya. “Pola dan warnanya! Ya, aku akan mengatakan pada raja kalau aku sangat puas!”

 

“That makes us happy!” said the two weavers, and they called the colors and the unusual pattern by name. The old minister listened closely so that he would be to able say the same things when he reported back to the emperor, and that is exactly what he did.

“Ini membuat kami senang!” kata kedua penenun, dan mereka menamakan warna dan pola yang tidak biasa itu. Perdana menteri tua tersebut mendengarkan dengan baik agar ia dapat mengatakan hal yang sama kepada raja, dan itulah yang ia lakukan.

 

The swindlers now asked for more money, more silk, and more gold, all of which they hid away. Then they continued to weave away as before on the empty looms.

Penenun sekarang meminta uang lebih, kain sutera lebih dan juga emas lebih, semua itu mereka sembunyikan. Kemudian mereka melanjutkan menenun di alat tenun yang kosong.

 

The emperor sent other officials as well to observe the weavers’ progress. They too were startled when they saw nothing, and they too reported back to him how wonderful the material was, advising him to have it made into clothes that he could wear in a grand procession. The entire city was alive in praise of the cloth. “Magnifique! Nysseligt! Excellent!” they said, in all languages. The emperor awarded the swindlers with medals of honor, bestowing on each of them the title Lord Weaver.

Sang raja mengirimkan pejabat lainnya untuk mengamati kemajuan kerja para penenun tersebut. Mereka juga terkejut saat tidak melihat apapun, dan mereka juga melaporkan betapa indahnya bahannya tersebut, menyarankan raja untuk menjadikannya sebuah baju untuk dipakai di acara prosesi akbar. Seluruh kota akan memuji bajunya. “Magnifique! Nysseligt! Excellent!” kata mereka, dalam berbagai bahasa. Sang raja memberikan penghargaan penenun mendali kehormatan, menganugerahkan masing-masing mereka gelar Lord Weaver.

to-be-continued

Questions:

  1. What does the Emperor like the most?
  2. What is so special about this cloth?

Galat database Wordpress: [The table 'wp_options' is full]
INSERT INTO `wp_options` (`option_name`, `option_value`, `autoload`) VALUES ('_wp_session_b0b272ce55d6c4de6535333e8cc59ddc', 'a:1:{s:10:\"age_filter\";s:4:\"none\";}', 'no') ON DUPLICATE KEY UPDATE `option_name` = VALUES(`option_name`), `option_value` = VALUES(`option_value`), `autoload` = VALUES(`autoload`)

Galat database Wordpress: [The table 'wp_options' is full]
INSERT INTO `wp_options` (`option_name`, `option_value`, `autoload`) VALUES ('_wp_session_expires_b0b272ce55d6c4de6535333e8cc59ddc', '1571024586', 'no') ON DUPLICATE KEY UPDATE `option_name` = VALUES(`option_name`), `option_value` = VALUES(`option_value`), `autoload` = VALUES(`autoload`)