Pentingnya Metode Hands-on

2018.05.31
Pentingnya Metode Hands-on

Keterampilan hands-on (praktek langsung) akan sangat membantu anak dalam mengembangkan bakat mereka, misalnya dalam hal eksekusi/pelaksanaan dan kreativitas.

Pertama-tama, mari kita bahas lebih dalam tentang keterampilan “hands-on”, yang menyangkut keterampilan praktikal, operasional dan eksekutif.

Apakah manfaat keterampilan hands-on untuk murid SD?

Mengembangkan kemampuan belajar mandiri. Berbeda dari metode belajar tradisional, anak sebenarnya bisa belajar dengan cara learning by doing. Contohnya, metode pengajaran STEAM yang kini sedang populer memungkinkan murid untuk memecahkan masalah dengan cara melakukan praktek langsung. STEAM mendorong murid untuk menggunakan tangan dan otak mereka, memecahkan masalah dan memperbaiki kesalahan dengan usaha mereka sendiri, seerta belajar secara mandiri.

Contohnya, saat murid kelas 2 SD belajar tentang arsitektur, guru memperkenalkan beberapa pengetahuan dasar tentang arsitektur, dan murid diminta untuk membangun jembatan dengan menggunakan kertas dan selotip. Setelah itu, murid ditugaskan untuk praktek dalam kelompok, dan menggunakan kertas, selotip serta lem untuk membuat berbagai bentuk arsitektur, lalu menambahkan bobot di atasnya. Dengan cara ini, murid bisa menerapkan pengetahuan mereka dan bisa memahami konsep arsitektur dengan lebih kuat. Anak akan memiliki pemahaman yang independen dan lengkap perihal arsitektur.

Memotivasi kreativitas. Banyak guru yang mengatakan bahwa jika murid hanya mendengarkan guru saja, maka kreativitas anak takkan bertumbuh. Sebaliknya, jika anak menggunakan tangan dan otak mereka, maka mereka akan menciptakan suatu temuan baru. Inovasi tak bisa tercipta hanya dengan teori saja, karena inovasi membutuhkan sebuah eksekusi/pelaksanaan. Otak memberi perintah ke tangan, lalu tangan memberi umpan balik ke otak, dan akhirnya ide baru pun tercipta. Perkembangan inovasi hanya bisa dilakukan dengan cara ini.

Bagaimana cara membina keterampilan hands-on anak?

Mulailah dengan aktivitas sehari-hari. Orang tua adalah sosok guru pertama bagi anak. Orang tua harus mengembangkan keterampilan hands-on anak di rumah, mendorong rasa ingin tahu anak, dan jangan terlalu khawatir jika anak merusak barang-barang atau membuat rumah berantakan. Anak-anak harus “nakal”, karena jika tidak, anak akan tumbuh besar menjadi sosok yang takut untuk mencoba hal-hal baru.

Saat anak berkata: “Bagaimana cara membuat hal ini?”, “Aku ingin mencoba membuat kue!”, “Bagaimana struktur mainan ini? Apakah aku boleh merobohkannya?” atau “Aku ingin menjual buku-bukuku di acara sekolah!”, maka semua ini adalah momen yang sempurna untuk mendorong anak melakukan sesuatu secara hands-on.

Kembangkan hobi hands-on anak, misalnya Lego, memasak, melukis, dan desain. Tujuannya adalah agar anak tak takut untuk melakukan praktek langsung, dan agar anak bisa memecahkan masalah yang mungkin tadinya tak terpikir oleh mereka. Banyak orang tua yang ingin agar guru terus-terusan mengajar di kelas, dan berpikir bahwa murid yang melakukan praktek hanyalah membuang-buang waktu saja. Lalu ada orang tua lain yang ingin agar anak mereka fokus pada olahraga dibandingkan mengotak-atik barang. Padahal sebenarnya ini adalah proses bagi anak untuk belajar mandiri.

Biarkan anak melakukan apa pun yang mereka inginkan. Jika sejak kecil anak bebas untuk melakukan apa pun, maka mereka akan mempunyai kemampuan eksekusi/pelaksanaan yang kuat. Terkadang anak mempunyai ide yang aneh atau menarik, dan orang tua harus mendukung ide ini dan membiarkan anak mewujudkannya sendiri. Contohnya, anak saya pernah berniat untuk menetaskan telur. Tapi karena dia merasa capek untuk terus-terusan jongkok, maka dia pun lalu membuat kandang dari karton, melapisinya dengan kapas, lalu menggantung lampu 24 jam di atasnya. Seekor anak ayam pun akhirnya menetas di telur kelima. Meskipun saat itu saya tak bisa berhenti tertawa, tapi saya senang karena saya tak melarangnya berbuat hal tersebut. Kini anak saya sering membahas tentang telurnya yang menetas, dan dia sangat bangga karena telah berhasil melakukannya.

Anak-anak terlahir untuk melakukan sesuatu secara hands-on. Orang tua harus membiarkan anak belajar mandiri tentang berbagai hal, dan jangan membatasi kreativitas anak.

Mengenai penulis:

Tracy Liu (Mrs.)

Mrs. Tracy Liu adalah ibu dari 2 anak. Setelah lulus dari universitas Nankai dengan jurusan bahasa Inggris, dia telah bekerja di beberapa perusahaan internasional untuk berbagai peran dari jurnalis, sales, marketing hingga ke posisi senior manajemen. Dia pernah tinggal di Beijing, Shanghai, Paris, dan Hong Kong bersama dengan keluarganya. Saat ini dia hidup di Shanghai, dengan bekerja paruh waktu untuk merawat seorang putra berumur 11 tahun dan seorang putri berumur 6 tahun, dan separuh waktunya digunakan untuk bekerja menulis artikel orang tua di blogs dan forum orang tua. Pengalaman pribadi dan latar belakangnya telah mengajarkan dirinya pengertian yang mendalam mengenai kebudayaan Barat dan Timur mengenai pendidikan dan perkembangan anak-anak dan remaja. Dia memiliki kepercayaan yang mendalam bahwa setiap anak memiliki pemahaman dan pemikiran mereka sendiri, dan pekerjaan kita sebagai orang tua adalah untuk mengkultivasi dan menemukan metode yang bekerja untuk mendorong perkembangan yang sehat kepada masing-masing individu dan di dalam masyarakat.

Galat database Wordpress: [The table 'wp_options' is full]
INSERT INTO `wp_options` (`option_name`, `option_value`, `autoload`) VALUES ('_wp_session_5b9eebcece432f6afd6c436192a6736c', 'a:1:{s:10:\"age_filter\";s:4:\"none\";}', 'no') ON DUPLICATE KEY UPDATE `option_name` = VALUES(`option_name`), `option_value` = VALUES(`option_value`), `autoload` = VALUES(`autoload`)

Galat database Wordpress: [The table 'wp_options' is full]
INSERT INTO `wp_options` (`option_name`, `option_value`, `autoload`) VALUES ('_wp_session_expires_5b9eebcece432f6afd6c436192a6736c', '1569241964', 'no') ON DUPLICATE KEY UPDATE `option_name` = VALUES(`option_name`), `option_value` = VALUES(`option_value`), `autoload` = VALUES(`autoload`)