Belajar di Luar Ruang Kelas

2018.05.08
Belajar di Luar Ruang Kelas

Apakah menyenangkan jika anak terus-terusan belajar menghadap papan tulis?

Sekolah bilingual tempat anak saya belajar mempunyai berbagai macam “aktivitas” setiap bulannya. Contohnya, para murid sering diajak berkunjung ke perpustakaan atau halaman sekolah. Terkadang guru mengangkut alat peraga ke luar kelas dan mengajar di halaman sekolah. Murid juga sering mengunjungi museum atau kebun raya, sesuai dengan tema pelajaran yang mereka pelajari di kelas. Murid-murid yang lebih besar diajak bertamasya atau berkemah untuk mengasah keberanian mereka. Akan tetapi, semua hal tersebut bukanlah kegiatan ekstrakurikuler; tujuannya adalah untuk memperkuat pengetahuan yang murid pelajari di kelas.

 

Mengapa perlu belajar di luar ruang kelas?

Belajar di luar kelas memberikan “kesegaran” sehingga anak bisa belajar dan menghafal dengan lebih baik.

Anak-anak suka bermain dan menyukai hal-hal baru. Mereka pasti akan merasa bosan jika harus terus-terusan melihat papan tulis. Oleh karena itu guru dan sekolah perlu tahu cara menginspirasi minat belajar anak. Pengalaman baru akan membuat anak-anak menjadi terkesan dengan apa yang mereka pelajari. Contohnya, guru mengajak para muridnya ke taman bermain saat cuaca cerah. Murid lalu bertugas mengukur volume dan massa segala jenis cairan. Sampai saat ini, anak saya masih terus ingat pelajaran tersebut dan masih hafal ilmu fisika tentang perbandingan kepadatan antara berbagai cairan berbeda.

Anak-anak bisa memahami hubungan interdisipliner antar ilmu yang mereka pelajari.

Saat ini, berbagai mata pelajaran di sekolah mempunyai tema yang serupa. Bagaimana cara menghubungkan semua mata pelajaran ini secara efisien? Hal ini bisa dilakukan lewat berbagai kegiatan di luar ruang kelas. Contohnya, anak saya kini sedang belajar tentang tumbuhan dan serangga. Berbagai mata pelajaran seperti Bahasa Inggris, matematika, seni dan musik, semuanya fokus pada tema ini. Para murid diajak bertamasya ke kebun raya dimana mereka bisa melakukan pengamatan lapangan tentang serangga dan tanaman dari berbagai zona iklim berbeda, suatu hal yang telah mereka pelajari di dalam kelas. Para murid lalu duduk di kebun raya dan menggambar sketsa tanaman. Begitu kembali ke sekolah, mereka lalu menuliskan pengalaman mereka, dan menciptakan lagu dan lirik bersama guru seni musik. Pembelajaran interdisipliner ini bertempat di luar ruang kelas dan membuat proses belajar mengajar menjadi lebih menyenangkan dan lebih mudah untuk menghubungkan berbagai jenis mata pelajaran.

Murid bisa membuat hubungan antara pengetahuan dan kehidupan nyata, mereka bisa menemukan korespondensi pengetahuan di kehidupan nyata.

Kita sering bilang bahwa kita tak bisa belajar secara mekanis, artinya kita tak bisa memisahkan pengetahuan di kelas, tetapi kita bisa menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan nyata dan mempraktekkan ilmu pengetahuan tersebut. Ilmu yang didapat di dalam kelas bisa berhubungan dengan kehidupan sehari-hari sehingga anak dapat memahami ilmu pengetahuan dengan lebih baik. Contohnya, saat guru mengajarkan tentang konsep panjang, maka PR-nya adalah menebak panjang furnitur dan perangkat elektronik di rumah, lalu mengukurnya dengan penggaris dan membuat perbandingan. Anak-anak biasanya kaget saat mengetahui bahwa tebakan mereka jauh berbeda dari panjang sebenarnya, akan tetapi dengan cara ini anak jadi paham secara mendalam tentang konsep panjang dan ukuran. Pengetahuan umum pun terbentuk secara bertahap.

 

Lalu bagaimana cara orang tua bisa mempraktekkan ilmu di kelas ke dalam kehidupan sehari-hari?

Pertama-tama, jawablah pertanyaan anak sebanyak mungkin. Anak-anak senang bertanya, dan pertanyaan mereka seringkali di luar dugaan. Ini adalah kesempatan bagi orang tua untuk mengajarkan anak. Jawablah pertanyaan mereka dengan serius jika Anda tahu jawabannya; jangan menjawab secara asal-asalan karena Anda bisa mencari jawabannya secara online. Setiap kali anak mengajukan pertanyaan, mereka berharap orang tua mereka bisa membantu menemukan jawabannya. Ini adalah kelas terbaik di luar ruang kelas.

Orang tua bisa lebih sering mengajak anak untuk mencicipi budaya berbeda. Anak-anak yang lebih tua bisa diajak untuk mengunjungi lokasi yang jauh dari rumah; ruang kelas bergerak terdapat di sepanjang jalan. Orang tua bisa mengajak anak untuk mengunjungi dan belajar tentang topografi karst atau seni Renaissance di Eropa. Anak-anak bisa mulai belajar dari memeriksa tips bertamasya, lalu mengetahui budaya, sejarah serta makanan lezat lokal, lalu menjelajah dan menemukan berbagai hal di sepanjang perjalanan. Terakhir, mereka bisa melihat kembali foto-foto dan menulis catatan perjalanan setelah liburan berakhir. Ini adalah bentuk tamasya “kelas” yang menyenangkan.

Mendukung ekstrakurikuler dan metode pembelajaran interdisipliner sekolah. Saya sering melihat para orang tua yang menentang berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh sekolah, karena mereka berpikir hal ini hanya mengurangi waktu belajar saja. Tetapi ada juga para orang tua yang mendukung dan bahkan ikut ambil bagian dalam kegiatan sekolah, misalnya menjadi sukarelawan dalam mengawasi para murid. Jika orang tua bisa bersikap lebih suportif, maka sekolah bisa fokus mencari cara untuk membuat kegiatan kelas menjadi lebih menarik agar anak bisa belajar ilmu pengetahuan dalam keseharian mereka.

Saya ingin para orang tua menyadari bahwa ilmu pengetahuan tidak hanya bisa didapatkan di dalam ruang kelas. Orang tua dan guru bisa menggunakan imajinasi mereka untuk memberikan lebih banyak peluang belajar pada anak. Dengan begitu, anak akan bisa mempelajari hal-hal baru setiap saat, baik di dalam maupun di luar kelas.

Mengenai penulis:

Tracy Liu (Mrs.)

Mrs. Tracy Liu adalah ibu dari 2 anak. Setelah lulus dari universitas Nankai dengan jurusan bahasa Inggris, dia telah bekerja di beberapa perusahaan internasional untuk berbagai peran dari jurnalis, sales, marketing hingga ke posisi senior manajemen. Dia pernah tinggal di Beijing, Shanghai, Paris, dan Hong Kong bersama dengan keluarganya. Saat ini dia hidup di Shanghai, dengan bekerja paruh waktu untuk merawat seorang putra berumur 11 tahun dan seorang putri berumur 6 tahun, dan separuh waktunya digunakan untuk bekerja menulis artikel orang tua di blogs dan forum orang tua. Pengalaman pribadi dan latar belakangnya telah mengajarkan dirinya pengertian yang mendalam mengenai kebudayaan Barat dan Timur mengenai pendidikan dan perkembangan anak-anak dan remaja. Dia memiliki kepercayaan yang mendalam bahwa setiap anak memiliki pemahaman dan pemikiran mereka sendiri, dan pekerjaan kita sebagai orang tua adalah untuk mengkultivasi dan menemukan metode yang bekerja untuk mendorong perkembangan yang sehat kepada masing-masing individu dan di dalam masyarakat.

Galat database Wordpress: [The table 'wp_options' is full]
INSERT INTO `wp_options` (`option_name`, `option_value`, `autoload`) VALUES ('_wp_session_b1ba7df359a265a2c09459757fb129bd', 'a:1:{s:10:\"age_filter\";s:4:\"none\";}', 'no') ON DUPLICATE KEY UPDATE `option_name` = VALUES(`option_name`), `option_value` = VALUES(`option_value`), `autoload` = VALUES(`autoload`)

Galat database Wordpress: [The table 'wp_options' is full]
INSERT INTO `wp_options` (`option_name`, `option_value`, `autoload`) VALUES ('_wp_session_expires_b1ba7df359a265a2c09459757fb129bd', '1573638391', 'no') ON DUPLICATE KEY UPDATE `option_name` = VALUES(`option_name`), `option_value` = VALUES(`option_value`), `autoload` = VALUES(`autoload`)