Apakah itu ujian A-Level, AP dan IB?

2018.09.27
Apakah itu ujian A-Level, AP dan IB?

Siswa SMA yang bersekolah di Inggris dan AS (termasuk Kanada, Australia , dsb) harus lulus ujian persiapan perguruan tinggi. Ujian ini dibagi menjadi A-leve, AP dan IB, sesuai dengan standar dan konten yang berbeda. Mari kita bahas tentang 3 jenis ujian ini, termasuk persamaan dan perbedaannya, serta ujian mana yang perlu dipilih oleh siswa.

A-Level adalah Advanced Level (tingkat lanjut), yaitu ujian kelulusan SMA terpadu atau ujian persiapan perguruan tinggi, dan hal ini setara dengan ujian masuk universitas kita (di Indonesia atau di China?). Sistem ujian ini juga diterapkan di Singapura dan Hong Kong. A-level membutuhkan waktu belajar 2 tahun, dan materi yang diuji adalah 3 jenis mata pelajaran yang dipilih oleh siswa itu sendiri. Di tahun pertama, siswa memilih 3-5 mata pelajaran, lalu di tahun kedua siswa fokus pada 3 mata pelajaran saja. Walaupun tentu saja 3 mata pelajaran ini harusah sesuai dengan jurusan kuliah yang akan mereka pilih. Contohnya, jika siswa ingin berkuliah di jurusan menajemen ekonomi, maka ia harus memilih mata pelajaran matematika saat ujian A-level.

AP adalah Advanced Placement examination (ujian penempatan lanjutan), yaitu ujian pra-universitas untuk siswa dari negara-negara seperti AS dan Kanada. Sesuai dengan namanya, siswa yang mengikuti ujian AP semuanya adalah akademik. Ada banyak mata pelajaran alternatif, dan siswa bisa memilih satu atau beberapa mata pelajaran sesuai dengan minat mereka sendiri. Beberapa konten ujian adalah konten yang dipelajari di tahun pertama universita. Skor tesnya berkisar dari 1-5, dan kandidat yang meraih skor lebih dari 3 akan mendapat kredit nilai untuk kuliah. Tidak semua siswa memilih untuk mengikuti AP, dan tidak semua SMA mempunyai mata pelajaran AP. Siswa yang mendapat nilai tinggi di beberapa mata pelajaran juga bisa mengambil ujian AP untuk membantu saat mereka mendaftar ke universitas.

IB, atau International Baccalaureate, saat ini diterima sebagai ujian pra-universitas di dunia. Dalam program IB, siswa harus memilih 6 mata pelajaran; 3 di antaranya berada pada tingkat normal, dan 3 pada tingkat lanjutan. Selain itu ada pula 3 poin tambahan lainnya: tesis kelulusan, esai/makalah oanjang, dan kerja praktek. Skor tertinggi IB adalah 45 poin. Di tahun 2018, skor rata-rata global IB adalah 29 poin.

 

Apakah karakteristik dari 3 sistem ujian ini, dan apakah perbedaan di antara mereka?

Pertama-tama, A-level adalah ujian yang murni menggunakan bahasa Inggris,dan hanya digunakan di Inggris dan di beberapa negara lain, seperti Singapura dan Hong Kong. Ujian A-level adalah versi upgrade dari ujian kelulusan SMA di Inggris dan dianggap sebagai ujian persiapan universitas. Siswa memilih mata pelajaran yang jelas-jelas berhubungan dengan jurusan kuliah mereka di masa depan. Keuntungannya, ada lebih sedikit mata pelajaran yang masuk ujian sehingga ‘beban’ akademik siswa relatif lebih santai. Akan tetapi, A-level membutuhkan level yang lebih tinggi dari beberapa mata pelajaran dasar (misalnya Bahasa Inggris dan matematika), serta siswa harus menentukan jurusan kuliah mereka sejak jauh-jauh hari agar bisa memilih mata pelajaran A-level yang sesuai.

AP adalah sistem ujian masuk universitas untuk negara-negara tertentu seperti AS dan Kanada. AP sangat membutuhkan kemampuan belajar siswa yang tinggi. Biasanya, kebanyakan siswa tidak memilih ujian AP; hanya siswa yang memiliki kapasitas ekstra di luar studi normal mereka di sekolah yang memilih jenis ujian ini. Keuntungan AP adalah: jika kandidat lulus AP (terutama yang lulus dengan nilai lebih dari 3 poin), maka ini adalah poin bonus untuk mendaftar ke universitas dan juga bisa dinilai sebagai kredit nilai. Akan tetapi hal ini agak sulit dicapai, kecuali  para siswa yang sungguh-sungguh tekun belajar.

Ujian IB diakui oleh mayoritas universitas di negara-negara berbahasa Inggris, dan bahkan cenderung lebih disukai dibanding 2 jenis ujian lainnya. Ujian IB identik dengan jumlah mata pelajaran yang banyak dan cakupan konten yang luas, sehingga menguji kemampuan siswa secara komprehensif. IB juga membutuhkan esai panjang dan kerja praktek sebagai persyaratan lulus ujian, dan hal ini menunjukkan bahwa ujian IB membutuhkan pengetahuan, pemikiran independen, dan kreativitas. Ujian IB mencakup banyak subjek mata pelajaran, persiapan untuk esai/makalah, dan praktek sosial. Oleh karena itu, IB adalah ujian yang paling mahal dan paling sulit.

Kesimpulannya, jika siswa hanya unggul di 1-2 mata pelajaran saja, tetapi lemah di subjek lain, maka dia sebaiknya memilih ujian A-level. Jika kemampuan siswa rata-rata, tetapi mempunyai pemikiran yang aktif dan mantap dalam berbahasa Inggris, maka IB adalah ujian yang ideal. Lalu, jika siswa memiliki pengalaman magang yang bagus dan mempunyai nilai yang sangat baik di beberapa mata pelajaran, serta tertarik untuk belajar lebih dalam dan ingin mendaftar ke universitas di AS dan Kanada, maka pilihlah ujian AP. Singkatnya, sangatlah penting untuk membuat pilihan yang paling tepat sesuai dengan situasi/kemampuan belajar siswa, bidang profesi yang diminati siswa, serta karakteristik dan persyaratan khusus dari universitas pilihan siswa.

 

Pendidikan menjadi semakin global, dan banyak negara yang melakukan reformasi besar-besaran terhadap sistem pendidikan dan konten ujian mereka. Contohnya, ujian A-level Inggris akan berubah di tahun 2019 dengan bertambahnya konten subjek baru. Maka itu, kita juga bisa berharap bahwa dalam waktu dekat, sistem ujian ini akan belajar dari satu sama lain dan konten ujian pra-universitas akan terus ditingkatkan, sehingga niscaya siswa dapat memiliki lebih banyak kesempatan untuk belajar di universitas dan jurusan impian mereka.

Mengenai penulis:

Tracy Liu (Mrs.)

Mrs. Tracy Liu adalah ibu dari 2 anak. Setelah lulus dari universitas Nankai dengan jurusan bahasa Inggris, dia telah bekerja di beberapa perusahaan internasional untuk berbagai peran dari jurnalis, sales, marketing hingga ke posisi senior manajemen. Dia pernah tinggal di Beijing, Shanghai, Paris, dan Hong Kong bersama dengan keluarganya. Saat ini dia hidup di Shanghai, dengan bekerja paruh waktu untuk merawat seorang putra berumur 11 tahun dan seorang putri berumur 6 tahun, dan separuh waktunya digunakan untuk bekerja menulis artikel orang tua di blogs dan forum orang tua. Pengalaman pribadi dan latar belakangnya telah mengajarkan dirinya pengertian yang mendalam mengenai kebudayaan Barat dan Timur mengenai pendidikan dan perkembangan anak-anak dan remaja. Dia memiliki kepercayaan yang mendalam bahwa setiap anak memiliki pemahaman dan pemikiran mereka sendiri, dan pekerjaan kita sebagai orang tua adalah untuk mengkultivasi dan menemukan metode yang bekerja untuk mendorong perkembangan yang sehat kepada masing-masing individu dan di dalam masyarakat.

Dapatkan Diskon Kursus Terbatas 2,3 Juta di EF hanya 7 Hari, klik link biru ini ▶PaydayKursus Bahasa Inggris di EF English First, Belajar Bahasa Inggris makin seru!

Galat database Wordpress: [The table 'wp_options' is full]
INSERT INTO `wp_options` (`option_name`, `option_value`, `autoload`) VALUES ('_wp_session_097d19745aefa7d708f8a4cb6a40b99a', 'a:1:{s:10:\"age_filter\";s:4:\"none\";}', 'no') ON DUPLICATE KEY UPDATE `option_name` = VALUES(`option_name`), `option_value` = VALUES(`option_value`), `autoload` = VALUES(`autoload`)

Galat database Wordpress: [The table 'wp_options' is full]
INSERT INTO `wp_options` (`option_name`, `option_value`, `autoload`) VALUES ('_wp_session_expires_097d19745aefa7d708f8a4cb6a40b99a', '1574441871', 'no') ON DUPLICATE KEY UPDATE `option_name` = VALUES(`option_name`), `option_value` = VALUES(`option_value`), `autoload` = VALUES(`autoload`)