Apakah Anak Anda Memiliki Empati? Baca Artikel Ini dan Temukan Jawabannya

2017.11.09
Apakah Anak Anda Memiliki Empati? Baca Artikel Ini dan Temukan Jawabannya

Ketika anak pertama saya berumur dua tahun, saya membawanya ke kursus orang tua-anak. Saat itu sang guru sedang menyanyikan sebuah lagu bahasa Inggris, ‘Seekor kelinci terjebak dalam gua lalala’, anak-anak lain bernyanyi dengan gembira dengan gurunya, hanya anak saya yang menangis dan membuat saya terkejut. Ketika saya bingung, guru melihatnya dan berkata, ‘Anak laki-laki Anda memiliki simpati pada usia muda, itu sangat langka!’ Saya mengetahui bahwa anak saya memiliki empati pada kelinci yang malang itu dan membentuk perasaan simpati.

Anak-anak memiliki simpati sejak usia dini. Beberapa orang berpikir bahwa orang terlahir dengan simpati dan itu adalah sifat dasar manusia. Akibatnya, bayi menangis saat mendengar orang lain menangis. Seiring bertambahnya usia, anak kecil semakin tidak mengenal dunia ini, simpati yang disebut ini dapat menurun secara bertahap.

Dengan terpapar pada dunia luar dan memiliki lebih banyak aktivitas sosial, simpati bisa berubah menjadi empati. Empati adalah jenis kemampuan yang dapat dipelajari. Bila anak memiliki pengalaman tertentu dan memiliki pengetahuan yang jelas tentang dunia dan orang sekitar, mereka dapat menerima perasaan dari orang lain. Poin yang paling penting adalah mereka bisa memberi tanggapan, seperti membantu orang yang membutuhkan, atau menjaga emosi orang lain.

Apakah empati itu penting? Dibandingkan dengan menjadi pandai belajar atau mampu dalam segala jenis keterampilan, orang tua tampaknya tidak memberikan fokus pada pengembangan simpati dan empati anak-anak. Kenyataannya, ini merupakan tonggak penting bagi anak-anak dalam proses mental mereka yang matang. Selama anak memiliki empati, akan memungkinkan bagi mereka memiliki hubungan interpersonal yang lebih baik, lebih populer di antara kelompok, memiliki hubungan keluarga yang baik dan untuk membangun hubungan yang sehat dengan lebih mudah.

Bagaimana menilai anak-anak memiliki empati dan bagaimana cara menumbuhkan empati mereka?

  1. Amati emosi orang lain, fokuskan pada perasaan orang lain dan berikan tanggapan tepat waktu

Beberapa anak yang sensitif akan segera memperhatikan perasaan orang lain di sekitar tanpa melakukan respon instan. Anak-anak yang memiliki empati mungkin berinisiatif untuk bertanya kepada orang tua mereka yang sedang dalam suasana hati yang sedih, “Apakah mama baik-baik saja? Apakah mama sedang terbebani sesuatu?” Beberapa anak bahkan mencoba meringankan emosi orang tua dengan menceritakan hal-hal bahagia yang mereka alami di sekolah.

  1. Tidak egois

Semua anak-anak biasanya lebih egois pada awal pertumbuhan mereka, mereka hanya ingin menikmati diri mereka sendiri dan tidak memperhitungkan orang lain. Beberapa anak relatif lemah dalam kepribadian mereka dan mungkin peduli pada orang lain karena rasa takut mereka dengan keengganan. Anak-anak dengan karakter yang kuat sering membiarkan orang lain melakukannya sesuai keinginan mereka sendiri. Anak-anak dengan empati dapat memperhatikan perasaan orang lain dan memiliki lebih banyak rasa menerima terhadap kompromi. Misalnya, anak-anak dengan empati dapat mempertimbangkan gagasan orang lain dan menawarkan proposal yang dipuaskan oleh kebanyakan anak saat menentukan permainan mana yang akan dimainkan. Akibatnya, anak-anak dengan empati lebih populer di kalangan kelompok.

  1. Lakukan tindakan sesuai dengan yang Anda inginkan orang lain lakukan kepada Anda

Ini adalah jalan yang tidak pernah berubah dalam kehidupan, itulah empati yang sebenarnya. Hal yang Anda tidak sukai jangan dilakukan terhadap orang lain, karena orang lain juga tidak menyukainya. Melihat anak-anak di sekitar, anak-anak yang tidak akan memukul orang lain pertama kali dan tidak akan mengambil mainan dari anak lain semuanya memiliki empati. Namun, anak-anak harus mengerti apa yang dilakukan setelah mereka tumbuh dewasa. Namun ini adalah pembahasan topik lain.

Sebagai orang tua, apa yang harus mereka lakukan untuk menumbuhkan dan mendorong empati anak dalam kehidupan sehari-hari?

Ambil kesempatan dalam hidup, ajari anak memahami perasaan orang lain berdasarkan situasi tertentu

Misalnya, ibu bisa memberi tahu anak-anak yang memiliki kontradiksi atau pertengkaran, ‘Orang lain akan terluka atau takut jika Anda melakukannya, Anda juga mungkin akan merasakan rasa sakit dan sedih jika orang lain menyakiti Anda, bukan?’ Tidak masalah meskipun anak-anak tidak segera tanggap. Misalnya, saat bercerita kepada anak-anak atau bermain-main dengan mereka, orang tua dapat menganalisis atau memainkan peran yang berbeda dengan anak-anak untuk membiarkan mereka mengerti bahwa orang yang berbeda memiliki perasaan yang berbeda terhadap hal yang sama, sehingga anak-anak dapat membangun empati untuk memahami orang lain secara bertahap.

Dorong anak-anak untuk tinggal bersama anak-anak seumuran untuk mengkultivasi empati di dalam kelompok

Interaksi sosial sangat penting bagi anak-anak di setiap zaman. Dalam proses mengeksplorasi dan memperbaiki, bagaimana bergaul dengan teman, bagaimana menjadi anak yang populer bisa menumbuhkan empati anak. Putriku adalah anak yang egois di masa kecilnya, dia selalu ingin menjadi ibu dalam permainan berperan dan anak-anak lain hanya bisa berperan sebagai ayah atau bayi. Lama-kelamaan teman-temannya enggan bermain dengannya. Saya mengingatkannya bahwa tidak ada yang senang jika dia selalu memberi perintah, akan menyenangkan saat semua orang dapat bergantian berperan sebagai ibu. Semua orang bermain bersama dengan gembira lagi saat putriku mengusulkan untuk berperan sebagai bayi kecil.

Orangtua harus memberi contoh yang baik untuk anak-anak

Orangtua harus memiliki empati untuk anak-anak mereka, mereka harus berkomunikasi dengan anak-anak selayaknya sebagai teman sementara juga membangun wibawa. Jika orang tua hanya sekedar meminta anak-anak untuk taat dan cepat mengerti, apa yang anak-anak dapat pelajari dari mereka adalah kekasaran daripada pengertian dan kebaikan. Anak pertamaku sangat suka memberontak pada awalnya, terkadang saya akan meneriakinya ketika saya tidak mampu menahannya. Kemudian saya menyadari efeknya bahwa dia kemudian memperlakukan adiknya dengan sikap buruk, sama seperti saya dalam nada dan sikap. Saya memutuskan untuk membuat perubahan setelah melakukan refleksi diri. Meskipun saya tidak setuju dengan perilaku anak saya, saya berdiskusi dengannya seperti orang dewasa dan bukannya marah padanya. Setelah beberapa lama, sikap kakak laki-laki terhadap adik perempuan membaik seperti yang diharapkan, anak-anak berbicara dan tertawa lagi.

Empati adalah komposisi kunci untuk pertumbuhan anak dan bahan pendidikan yang tidak dapat diabaikan setiap saatnya. Saya berharap masyarakat kita bisa lebih memfokuskan perkembangan mental anak-anak dan mendidik mereka untuk menjadi orang baik daripada memaksa mereka untuk mendapatkan nilai bagus dan belajar berbagai jenis soft skill.

 

Mengenai penulis:

Tracy Liu (Mrs.)

Mrs. Tracy Liu adalah ibu dari 2 anak. Setelah lulus dari universitas Nankai dengan jurusan bahasa Inggris, dia telah bekerja di beberapa perusahaan internasional untuk berbagai peran dari jurnalis, sales, marketing hingga ke posisi senior manajemen. Dia pernah tinggal di Beijing, Shanghai, Paris, dan Hong Kong bersama dengan keluarganya. Saat ini dia hidup di Shanghai, dengan bekerja paruh waktu untuk merawat seorang putra berumur 11 tahun dan seorang putri berumur 6 tahun, dan separuh waktunya digunakan untuk bekerja menulis artikel orang tua di blogs dan forum orang tua. Pengalaman pribadi dan latar belakangnya telah mengajarkan dirinya pengertian yang mendalam mengenai kebudayaan Barat dan Timur mengenai pendidikan dan perkembangan anak-anak dan remaja. Dia memiliki kepercayaan yang mendalam bahwa setiap anak memiliki pemahaman dan pemikiran mereka sendiri, dan pekerjaan kita sebagai orang tua adalah untuk mengkultivasi dan menemukan metode yang bekerja untuk mendorong perkembangan yang sehat kepada masing-masing individu dan di dalam masyarakat.

Galat database Wordpress: [The table 'wp_options' is full]
INSERT INTO `wp_options` (`option_name`, `option_value`, `autoload`) VALUES ('_wp_session_c2f8a148668b81e60f3a2fa26dd4b5d2', 'a:1:{s:10:\"age_filter\";s:4:\"none\";}', 'no') ON DUPLICATE KEY UPDATE `option_name` = VALUES(`option_name`), `option_value` = VALUES(`option_value`), `autoload` = VALUES(`autoload`)

Galat database Wordpress: [The table 'wp_options' is full]
INSERT INTO `wp_options` (`option_name`, `option_value`, `autoload`) VALUES ('_wp_session_expires_c2f8a148668b81e60f3a2fa26dd4b5d2', '1573641827', 'no') ON DUPLICATE KEY UPDATE `option_name` = VALUES(`option_name`), `option_value` = VALUES(`option_value`), `autoload` = VALUES(`autoload`)