Apakah Anak Anda Belajar Untuk Bertanggung Jawab?

2018.09.13
Apakah Anak Anda Belajar Untuk Bertanggung Jawab?

Dalam jangka panjang, kita membentuk hidup kita dan kita membentuk diri kita sendiri.

Proses ini tidak akan berakhir sampai waktu kita meninggal.

Dan, pilihan yang kita buat pada akhirnya merupakan tanggung jawab kita sendiri.

-Eleanor Roosevelt

Anda Belajar dengan Hidup (1960)

 

Dan untuk para remaja, sebagai tambahan dari kewajiban sehari-hari ini, mereka juga mulai belajar untuk mengambil tanggung jawab atas tindakan mereka sendiri selayaknya seperti yang dilakukan orang dewasa, dan mengambil sikap bertanggung jawab dengan pengertian yang lebih luas. Akan ada banyak sekali pilihan yang harus mereka pilih dalam keseharian hidup dan pembelajaran mereka: dari pilihan kemping liburan, bagaimana merayakan pesta ulang tahun, apakah baik atau tidak menonton pertandingan live di tengah malam; bagaimana cara menangani kekerasan bahasa antara murid-murid. Anak-anak pada umur ini diberikan lebih banyak hak, tetapi juga berarti akan mengambil lebih banyak tanggung jawab. Di dalam usia yang kritis ini, orang tua perlu mengajarkan mereka untuk mengerti: bahwa mulai saat ini, mereka harus mengambil tanggung jawab atas setiap pilihan mereka dan tingkah laku mereka sepanjang hidup mereka.

Akhir-akhir ini aku mendengar sebuah cerita dari salah satu orang tua: pada satu hari, seorang anak laki-laki, masih belajar di SMP tingkat pertama, tidak dapat menemukan kunci dari loker lemarinya. Dia berpikir itu adalah ulah jahil teman sekelasnya, dimana dapat dibuktikan oleh murid-murid lainnya. Tetapi, si murid yang sebenarnya menyembunyikan kunci loker anak laki-laki ini tidak mau mengakui ulahnya. Lalu, setelah dua hari lewat, orang tua murid ini membawa murid ini untuk menemui kepala sekolah, dan memberitahukan kepala sekolah tersebut bahwa benar anaknya mengambil kunci tersebut. Pada awal mulanya ini merupakan sebuah bercandaan, akan tetapi dia tidak berani untuk mengakuinya ketika dia melihat muka marah guru dan para murid. Ibu dari anak ini juga menyadari masalah ini dalam grup obrolan orang tua. Lalu si ibu pulang ke rumah dan menanyakan masalah ini kepada anaknya dan akhirnya mendapatkan jawaban. Ibu anak ini membawanya ke sekolah, bertemu dengan kepala sekolah dan memohon maaf kepada sang murid.

Saya sangat terkesan dengan ibu dari cerita tersebut. Pertama-tama, anak tersebut memberitahukan kepadanya hal yang sebenarnya, dimana artinya ada interaksi yang sangat baik antara mereka. Yang kedua, ibu ini mengajarkan ankanya untuk mengakui kesalahan dan siap menerima konsekuensi. Yang ketiga, sang ibu menyadari penuh rasa ketakutan untuk dikritik oleh para guru dan teman-teman sekelas, dan bersedia untuk menghadapi mereka semua bersama-sama dengan anaknya. Ini adalah tindakan ibu yang sangat baik yang menunjukkan dengan baik kepada anaknya: tidak perlu takut untuk melakukan kesalahan, tetapi Anda tidak dapat menghindar dari tanggjung jawab. Anda harus menghadapinya, mengakuinya, dan memperbaikinya.

Bertumbuh besar adalah proses pembelajaran; belajar bagaimana untuk memilih dan siap menerima konsekuensinya adalah pilihan. Bahkan untuk orang dewasa, terkadang kita tidak melakukan hal yang benar walaupun kita mengerti apa yang seharusnya kita lakukan karena kita terlalu takut atau malu. Anak muda lebih sering untuk menghiraukan atau mereka tidak bisa mengira-ngira konsekuensinya dari awal, dan maka dari itu mereka lebih sering melakukan kesalahan dari waktu ke waktu.

Lalu, bagaimana caranya mengajarkan anak-anak kita untuk mengambil tanggung jawabnya sendiri, termasuk konsekuensi dari melakukan suatu hal yang salah?

Pertama-tama, mereka harus belajar untuk mempertimbangkan tindakan mereka, dan mengambil sebuah pilihan yang matang.

Putraku memiliki grup chat sekolah di kelasnya dan biasanya mereka membicarakan pekerjaan rumah, total skor permainan sepakbola, dan topik-topik lainnya. Aku tidak begitu memberikan banyak perhatian ke dalam grup ini pada awalnya. Namun beberapa hari yang lalu, aku mendengar salah satu orang tua berkata bahwa ada sekali seorang murid mengirimkan informasi yang tidak pantas ke grup tersebut, dimana hal tersebut dilihat oleh para orang tua dan telah dilaporkan ke sekolah. Maka sekolah mengundang anak tersebut beserta orang tuanya. Selanjutnya, sebuah catatan diumumkan, menyarankan para orang tua dan anak-anak mereka untuk meninjau dan lebih memperhatikan masalah-masalah di internet. Pihak sekolah menekankan beberapa poin berikut: 1. Memperhatikan waktu internet, jangan membuang waktu dengan obrolan online daripada belajar. 2. Para murid harus lebih memperhatikan perkataan yang ada di internet; segala kata-kata yang tidak pantas akan meninggalkan bukti. 3. Apabila Anda memiliki perilaku yang kurang baik, harap melaporkan ke orang tua atau guru Anda, dan membenarkannya secepat mungkin.

Kasus ini mengetuk kegusaran kepada seluruh orang tua: para remaja sudah memiliki kemampuan untuk menilai secara mandiri, tetapi terkadang penilaian implusif akan menyebabkan kesalahan. Dan internet maha-hebat, dimana sangat sulit untuk dikontrol oleh orang tua, dan menyebabkan anak-anak menjadi ceroboh dengan tingkah lakunya. Meskipun internet itu terbuka dan jelas, setiap tindakan, setiap kata, dapat meninggalkan suatu tanda. Setiap orang tua harus bisa mengambil manfaat dari kesempatan ini untuk mengingatkan mereka kapan untuk mengambil keputusan, memilih dengan hati-hati, dan juga bertanggung jawab terhadap setiap pilihan mereka.

Bahkan apabila terjadi konsekuensi buruk dari melakukan pilihan yang salah, kita tidak bisa menghindar. Kita harus mempunyai keberanian untuk mengambil resiko dan bertanggung jawab. Setiap orang, dewasa atau anak-anak, akan terkadang melakukan kesalahan, atau melakukan pilihan yang salah. Tetapi dibandingkan dengan melakukan kesalahan, mengelak atau menghindari tanggung jawab akan menyebabkan konsekuensi yang lebih buruk kepada perkembangan anak Anda.

  • Mengambil tanggung jawab merupakan tindakan yang dewasa, dan berdiri tegap mengakui dan berkata “Ya, saya melakukannya” adalah tanda yang menunjukkan kedewasaannya. Menghindari tanggung jawab akan memiliki dampak terhadap perkembangan pribadi sang anak.
  • Orang yang tidak bertanggung jawab dalam jangka panjang, akan menyebabkan yang orang lain tidak yakin, tidak dihargai orang lain. Dan akan mengarah ke identitas diri yang rendah, kemudian menjadi orang yang memiliki harga diri rendah.

Hal yang paling penting adalah belajar dari kesalahan, mengambil hikmah dari penderitaan, dan berusaha untuk tidak melakukan kesalahan yang sama.

Pada waktu putriku berumur lebih dari lima tahun, aku mempersiapkan makanan dim sum dan buah-buahan ketika dia kembali dari sekolah setiap harinya. Aku menemukan bahwa dia sering diam-diam memanjat meja dapur dan mengambil cemilan dari lemari tanpa sepengetahuanku. Setiap kali aku menemukannya, aku berusaha menghentikan dan memberitakukan kepadanya alasan kenapa tidak boleh: pertama, memanjat itu berbahaya; kedua, dia tidak akan memiliki nafsu makan apabila dia memakan cemilan terlalu banyak. Setiap kali dia akan selalu secepatnya memohon maaf, tetapi ketika aku kembali beraktifitas, dia akan diam-diam memanjat kembali. Terlihat jelas dia tidak begitu mengerti arti dari konsekuensi melakukan hal yang salah dan buru-buru meminta maaf hanya untuk menenangkan amarahku. Aku perlu memperingatkan dia lagi dan berkata “apabila kamu memanjat lemari untuk mengambil cemilan, kamu tidak boleh menonton film kartun kesukaan kamu dan sebagai gantinya kamu harus tinggal di kamar kamu”. Sekali lagi dia kembali mencoba melakukan hal tersebut, aku mengangkat dia turun dan membawanya langsung ke kamarnya. Karena dia tidak mendengarkan peringatanku, aku harus memberikan hukuman nyata: tidak memperbolehkan menonton film kartun. Putriku menangis jerit-jeritan, tetapi aku tidak bisa memberikan kelonggaran untuk memberikan dia pengertian bahwa dia harus siap menerima konsekuensinya. Lalu aku menunggu hingga dia lebih tenang, masuk ke kamarnya, mengatakan kepadanya untuk siap menerima konsekuensi apabila dia melakukan tindakan yang salah lagi. Walaupun dia masih agak lemah dalam penguasaan dirinya, dia harus mulai berpikir kedepan apakah perilakunya layak. Dan dia tidak bisa sekedar memohon ampun dalam perkataan untuk menyelesaikan setiap masalah.

Akhir kesimpulannya adalah:

  • Ini merupakan tanggung jawab dari para orang tua untuk tetap mengingatkan anak-anak betapa pentingnya sikap bertanggung jawab;
  • Membiarkan anak-anak belajar untuk mengambil tanggung jawab, tanpa memandang ukuran tanggung jawab. (mulai dari mengambil tas mereka sendiri, merapikan kamar mereka sendiri, dan juga untuk menerima konsekuensi dari kesalahan mereka sendiri).
  • Orang tua harus membuat diri mereka sendiri sebagai contoh, jangan mudah menurunkan standar diri sendiri dan untuk anak-anak.
  • Untuk berkomunikasi kepada anak-anak Anda secara jujur dan terbuka; untuk selalu menepati janji-janji Anda: meskipun itu adalah sebuah upah atau sebuah hukuman.

Lebih mudah untuk mengerti prinsip-prinsip ini daripada melakukan tindakan nyata. Semoga setiap orang tua akan lebih memperhatikan dan lebih berusaha untuk hal ini.

Mengenai penulis:

Tracy Liu (Ms.)

Ibu dari 2 anak. Lulus dari universitas Nankai dengan jurusan Inggris, lalu dia telah bekerja di perusahaan internasional. Dia telah hidup dan bekerja di Beijing, Shanghai, Paris, dan Hong Kong. Saat ini dia hidup di Shanghai, dengan bekerja paruh waktu untuk merawat seorang putra berumur 11 tahun dan seorang putri berumur 6 tahun, separuh waktunya bekerja sebagai freelancer. Karena pengalaman pribadinya, dia memiliki pengertian yang mendalam mengenai kebudayaan Barat dan Timur. Selain itu , dia juga memiliki banyak pengalaman dan pemikiran untuk pendidikan anak-anak dan remaja, dan bersedia untuk berbagi dengan orang tua lainnya.

Galat database Wordpress: [The table 'wp_options' is full]
INSERT INTO `wp_options` (`option_name`, `option_value`, `autoload`) VALUES ('_wp_session_6cd8da15df4ab61d0ec801c56ce5fece', 'a:1:{s:10:\"age_filter\";s:4:\"none\";}', 'no') ON DUPLICATE KEY UPDATE `option_name` = VALUES(`option_name`), `option_value` = VALUES(`option_value`), `autoload` = VALUES(`autoload`)

Galat database Wordpress: [The table 'wp_options' is full]
INSERT INTO `wp_options` (`option_name`, `option_value`, `autoload`) VALUES ('_wp_session_expires_6cd8da15df4ab61d0ec801c56ce5fece', '1569195611', 'no') ON DUPLICATE KEY UPDATE `option_name` = VALUES(`option_name`), `option_value` = VALUES(`option_value`), `autoload` = VALUES(`autoload`)